Suasana upacara HUT RI ke-80 di Sekolah Partai PDIP Lenteng Agung yang dipimpin Megawati Soekarnoputri dengan peserta berpakaian merah

Upacara HUT RI ke-80 di Sekolah Partai PDIP: Lenteng Agung Dipenuhi Semangat Merah

Pagi ini, langit Jakarta Selatan kayaknya lagi ngasih vibe yang beda. Matahari belum terlalu tinggi, tapi Lenteng Agung udah rame sama orang-orang berpakaian merah. Bukan merah biasa, tapi merah yang nyala banget, khasnya PDIP. Di tengah kerumunan itu, ada sosok yang udah nggak asing lagi: Megawati Soekarnoputri. Beliau hadir bukan sekadar untuk ikut upacara, tapi jadi pusat perhatiannya.

“Selamat pagi, Ibu Ketua Umum,” sapa Hasto Kristiyanto sambil menyalami Megawati yang baru turun dari mobil.

Yang bikin suasana makin khidmat adalah penampilan Megawati sendiri. Baju merah menyala dengan lis hitam di kancingnya, dipadu anting merah yang senada. Elegan, tapi tetap kuat. Aura pemimpin banget. Ia nggak sendirian. Di sampingnya, ada putra tercintanya, M. Prananda Prabowo, yang sekarang menjabat sebagai Ketua DPP PDIP.

Upacara HUT RI di Sekolah Partai PDIP Lenteng Agung

Sambil melangkah ke halaman upacara, Megawati sempat melirik kiri-kanan. Banyak kader muda yang berdiri tegak, siap menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tapi vibe-nya bukan cuma formalitas. Ada rasa bangga dan kebersamaan yang kerasa banget.

Letjen TNI (Purn) Ganip Warsito juga udah siap di posisi. Beliau ditunjuk jadi komandan upacara kali ini. Buat yang belum tahu, Ganip itu mantan Kepala BNPB dan sekarang jadi Kepala Baguna Pusat PDIP. Jadi, bukan orang sembarangan. Posisi strategis itu bikin jalannya upacara makin teratur dan solid.

Sementara Megawati berdiri sebagai inspektur upacara, semua mata tertuju padanya. Dan ini bukan upacara biasa. Ini udah jadi tradisi tahunan di PDIP. Tiap 17 Agustus, Megawati memang selalu pimpin upacara di Sekolah Partai, bukannya di Istana Merdeka.

“Agenda ini penting untuk menjaga semangat dan konsistensi kader partai,” ucap salah satu panitia yang berdiri di dekat barisan peserta.

Upacara ini dimulai dengan penghormatan bendera, pembacaan teks proklamasi, dan mengheningkan cipta. Semuanya dijalankan dengan tertib, dan penuh rasa nasionalisme.

Alasan Megawati Absen di Istana Merdeka

Nah, mungkin beberapa orang bertanya-tanya, kenapa Megawati nggak hadir di Istana Negara? Menurut Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, ketidakhadiran Megawati bukan karena ada masalah atau keengganan.

“Setiap 17 Agustus, Ibu Megawati memang punya agenda rutin di kantor DPP PDIP,” kata Prasetyo dari Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Jadi bukan hal baru. Udah bertahun-tahun, Megawati memang selalu ikut upacara bareng kadernya sendiri. Bagi PDIP, ini jadi semacam simbol kedekatan antara pimpinan dan anggota. Mungkin buat mereka, makna 17 Agustus justru lebih kerasa kalau dirayakan di rumah sendiri.

Sementara itu, di Istana Merdeka, upacara juga tetap jalan. Presiden Joko Widodo dan Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, dijadwalkan hadir. Jadi, semua tokoh besar tetap ada di momen penting ini, hanya lokasinya aja yang beda.

Tradisi PDIP yang Konsisten di Hari Kemerdekaan

Kalau dipikir-pikir, nggak banyak partai politik di Indonesia yang punya tradisi upacara 17 Agustus secara internal. Tapi PDIP beda. Mereka bikin Sekolah Partai di Lenteng Agung jadi pusat kegiatan ideologis. Bukan cuma tempat belajar politik, tapi juga ruang refleksi.

Dari tahun ke tahun, suasananya hampir selalu sama. Merah mendominasi, semangat membara, dan generasi muda partai ikut aktif. Megawati sering pakai momen ini buat ngasih pesan politik atau refleksi tentang arah bangsa. Meskipun kali ini belum muncul kutipan panjang dari beliau, kehadirannya sendiri udah jadi pernyataan yang kuat.

Buat banyak kader, bisa berdiri dalam satu barisan upacara bareng Megawati adalah pengalaman yang nggak semua orang bisa dapet. Bahkan yang cuma nonton dari pinggir halaman pun tetep ngerasa bagian dari momen penting.

“Gue udah tiga kali ikut upacara bareng Ibu Mega, tapi tiap tahun tetep aja merinding pas lagu kebangsaan dinyanyiin,” kata salah satu peserta muda, sambil senyum kecil.

Lenteng Agung dan Getaran Nasionalisme yang Dekat

Lenteng Agung pagi ini bukan cuma jadi lokasi upacara. Tapi juga jadi ruang yang nyambungin semangat nasionalisme sama keseharian warga Jakarta Selatan. Di balik jalanan yang biasanya macet dan rame angkot, hari ini lebih banyak wajah-wajah serius tapi hangat.

Orang-orang yang datang bukan cuma kader PDIP, tapi juga warga sekitar yang penasaran atau emang terbiasa ikut meramaikan acara tahunan ini. Ada ibu-ibu yang bawa anak kecil sambil pakai baju merah putih, ada juga bapak-bapak pensiunan yang dengan bangga berdiri tegak walau udah sepuh.

Kehadiran Megawati, Prananda, Ganip Warsito, dan tokoh-tokoh lain ngebawa suasana jadi lebih dari sekadar seremoni. Rasanya kayak upacara ini lebih jujur, lebih “riil”. Bukan soal formalitas negara, tapi soal ingatan kolektif, soal perjuangan, dan tentang menjaga api nasionalisme biar nggak padam.

Di akhir upacara, nggak ada pesta atau panggung besar. Tapi senyum di wajah peserta cukup jadi penutup yang tulus. Beberapa kader saling tos kecil, beberapa ngobrol pelan sambil cari minum di pinggir halaman.

Dan di tengah semua itu, Megawati duduk sebentar di bangku kayu panjang. Matanya menatap barisan bendera kecil yang dikibarkan anak-anak sekolah di pinggir lapangan. Nggak ada kata-kata, cuma diam. Tapi dari diam itu, kayaknya semua orang ngerti: 80 tahun Indonesia merdeka bukan cuma angka, tapi perjalanan yang harus terus dijaga.

Sumber: Liputan6 – Penampilan Serba Merah Megawati Soekarnoputri, Siap Pimpin Upacara HUT RI di Sekolah Partai PDIP – 17 Agustus 2025

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *