suasana perayaan kemerdekaan di lapangan sekolah MIN 9 Jakarta Selatan dengan siswa dan guru berkumpul dalam upacara dan lomba

Peringatan HUT ke-80 RI di MIN 9 Jakarta Selatan: Tiga Hari Penuh Semangat Nasionalisme

Kalau lo lagi jalan kaki pagi-pagi lewat gang sempit di daerah Kebagusan, terus tiba-tiba denger suara rame-rame dari arah lapangan sekolah, kemungkinan besar itu bukan sekadar anak-anak main bola. Bisa jadi, mereka lagi pada seru-seruan nyambut Hari Kemerdekaan ke-80 yang baru aja dirayain bareng-bareng di MIN 9 Jakarta Selatan. Tahun ini suasananya nggak biasa. Bukan cuma soal upacara doang, tapi lebih ke gimana suasana kompak dan rame itu jadi satu bentuk selebrasi kecil yang hangat di tengah kota.

Yang bikin beda, MIN 9 nggak cuma bikin satu acara ceremonial aja trus udahan. Mereka bikin perayaan kemerdekaan ini nyambung selama tiga hari, dari tanggal 13 sampai 15 Agustus 2025. Jadi bukan cuma satu momen, tapi lebih ke rangkaian semangat yang nyambung terus dari pagi sampe sore, diisi sama kegiatan yang melibatkan semua warga sekolah. Bukan cuma siswa, guru, atau staff, tapi juga orang tua ikut hadir dan ngerasain vibes-nya.

Bisa kebayang sih lapangan madrasah yang biasanya cuma rame pas jam olahraga, sekarang berubah jadi titik kumpul utama buat ngerayain kemerdekaan bareng-bareng. Bendera merah putih berkibar dari tiang tengah lapangan, sementara anak-anak kecil dengan seragam rapi duduk bersila di tanah, nunggu giliran tampil atau ikutan lomba.

Semarak kemerdekaan ke-80 RI di lapangan MIN 9 Jaksel

Perayaan kayak gini tuh sering dianggap receh sama yang udah dewasa. Tapi kalau lo ngeliat sendiri ekspresi wajah anak-anak MIN 9 waktu ikut acara kemarin, rasanya nggak berlebihan kalo bilang momen kayak gini tuh penting. Bukan cuma buat seru-seruan, tapi juga bikin mereka makin ngerti makna dari kemerdekaan itu sendiri.

Emang nggak disebutkan detail lombanya ada apa aja. Tapi dari nuansa yang dibangun, bisa ditebak sih pasti ada kegiatan yang khas kayak tarik tambang, balap karung, mungkin juga lomba makan kerupuk atau fashion show baju daerah. Yang pasti, kegiatan selama tiga hari itu ngebentuk suasana yang cair dan hangat. Guru dan murid nggak berjarak, semuanya lebur dalam satu semangat.

Yang bikin makin manis, orang tua murid juga dilibatkan. Biasanya kalo acara sekolah gini, orang tua cuma dateng kalo anaknya tampil doang. Tapi kali ini mereka juga ikut ngeramein, entah ngebantu dekorasi, jadi juri lomba, atau sekadar jadi supporter paling heboh. Ini yang bikin rasa kebersamaan makin kerasa, karena hubungan antara rumah dan sekolah bener-bener nyatu.

Dan lo tau nggak sih, lapangan madrasah itu akhirnya jadi saksi momen-momen yang nggak bisa diulang. Tawa anak-anak, suara teriakan dukungan, ekspresi gugup sebelum tampil, semuanya nyampur dalam satu suasana yang susah digambarin pake kata-kata. Mungkin terdengar sederhana, tapi justru di situlah nilai kuat dari peringatan kemerdekaan ini. Bukan soal seremoni resmi, tapi soal keberanian buat ngerayain kebersamaan.

Kalau lo pernah ikut upacara 17an pas masih SD atau SMP, pasti familiar sama rasa deg-degan pas bendera dinaikin sambil lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Ada rasa bangga yang nggak bisa dijelasin, apalagi kalo lo dikasih tugas jadi petugas upacara. Dan hal kayak gini nggak berubah meskipun zaman makin digital. Di MIN 9 Jaksel, hal itu tetep terasa relevan, bahkan makin berkesan karena dibarengin dengan rangkaian aktivitas lain yang memperkuat semangat nasionalisme.

Yang menarik, walaupun berita ini nggak menyebutkan tokoh penting yang hadir atau pidato resmi kayak di Istana, justru karena itulah kegiatan ini terasa lebih dekat. Lebih membumi. Bukan tentang selebrasi mewah, tapi tentang warga sekolah yang nyatu dalam rasa.

“Lapangan madrasah menjadi saksi semangat nasionalisme dan kebersamaan.”

Kalimat ini jadi penutup dari rilis berita yang diterbitin oleh Kemenag DKI Jakarta. Dan ya, sepintas mungkin terdengar klise. Tapi kalau lo mikir lebih dalam, sebenernya ini mencerminkan betapa pentingnya ruang lokal dalam menjaga semangat nasional. Nggak harus di Monas atau di stadion besar, tapi cukup di lapangan kecil madrasah di tengah Jaksel, semangat itu bisa hidup dan tumbuh.

Satu hal lagi yang patut disorot, MIN 9 Jaksel sebagai madrasah negeri berhasil ngasih contoh gimana cara membangun pendidikan karakter lewat aktivitas sederhana. Tanpa harus repot bikin kurikulum muluk-muluk, cukup lewat kolaborasi, keterlibatan orang tua, dan suasana yang suportif, mereka udah ngajarin banyak hal tentang toleransi, gotong royong, dan rasa cinta tanah air.

Apakah kegiatan ini bakal jadi inspirasi buat sekolah lain di Jakarta Selatan? Harusnya sih iya. Karena esensi dari kemerdekaan itu sendiri adalah kebebasan untuk mencipta makna. Dan MIN 9 udah membuktikan bahwa makna itu bisa lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan tulus.

Sumber: Kemenag DKI Jakarta – Semarak Kemerdekaan RI ke-80 di MIN 9 Jakarta Selatan – 17 Agustus 2025

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *