Petugas Dukcapil Jakarta Selatan melakukan perekaman KTP elektronik kepada pelajar di aula sekolah

Dukcapil Jaksel Gelar Jemput Bola Perekaman KTP di 13 Sekolah Menyambut HUT RI

Menjelang perayaan HUT RI ke-80, suasana di beberapa sekolah di Jakarta Selatan kerasa agak beda dari biasanya. Bukan cuma karena hiasan merah putih yang mulai rame di gerbang sekolah, tapi juga gara-gara ada layanan jemput bola dari Suku Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Jaksel. Program ini fokusnya buat pelajar yang udah cukup umur bikin KTP elektronik, biar nggak perlu repot-repot datang ke kelurahan atau kantor Dukcapil. Gaya santai tapi bermanfaat banget buat anak sekolah yang jadwalnya udah padet sama ujian, tugas, dan ekstrakurikuler.

Di SMAN 34 Pondok Labu, Cilandak, misalnya, pagi itu suasananya udah rame sejak jam masuk sekolah. Aula yang biasanya dipakai buat kegiatan OSIS, sekarang dipenuhi meja dan alat perekaman KTP. Pegawai Dukcapil duduk rapi sambil nyiapin alat perekaman biometrik. Ada kamera, fingerprint scanner, sampai perangkat tanda tangan digital. Pelajar yang datang tinggal antre, isi data, lalu difoto. Prosesnya cuma beberapa menit, dan semua bisa balik ke kelas tanpa ketinggalan pelajaran.

Salimin, Kepala Seksi Pelayanan Pendaftaran Penduduk Sudin Dukcapil Jakarta Selatan, bilang kalau layanan ini sengaja digelar di 13 sekolah sekaligus sebagai bagian dari rangkaian acara HUT RI. Targetnya jelas, memudahkan pelajar yang udah berusia 17 tahun atau lebih buat ngurus dokumen identitas. Katanya, “Kita mau anak-anak nggak perlu ribet lagi, apalagi harus izin dari sekolah buat ke kelurahan. Cukup tunggu di sekolah, kami yang datang.”

Layanan administrasi kependudukan lebih dekat ke warga

Konsep jemput bola ini bukan hal baru, tapi di momen HUT RI, rasanya jadi punya nuansa spesial. Selain di SMAN 34, sekolah-sekolah lain di berbagai kecamatan juga kebagian giliran. Para guru ikut bantu ngatur jalannya kegiatan, dari nyiapin ruangan sampai ngasih info ke siswa-siswi tentang dokumen apa aja yang perlu dibawa.

Buat sebagian pelajar, momen ini juga jadi pengalaman pertama mereka ketemu langsung sama petugas Dukcapil. Ada yang awalnya agak canggung waktu difoto karena belum terbiasa formal, tapi petugasnya sabar dan ramah. Mereka sering bercanda biar suasananya cair, jadi nggak tegang kayak lagi ujian sekolah.

Layanan ini juga dianggap sebagai bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap generasi muda. Identitas kependudukan itu penting, bukan cuma buat urusan formal kayak bikin SIM atau buka rekening bank, tapi juga buat akses ke berbagai layanan publik. Dengan adanya KTP, pelajar punya tanda pengenal resmi yang berlaku nasional, dan itu jadi bekal awal buat mereka masuk dunia dewasa.

Khusus di SMAN 34, tercatat ada 174 pelajar yang memanfaatkan layanan ini. Angka itu lumayan besar kalau dibandingin kapasitas aula sekolah. Antrean sempat memanjang di jam istirahat pertama, tapi tetap terkendali karena petugas membagi jalur berdasarkan kelas. Guru-guru piket ikut ngawasin biar semua tertib dan nggak ada yang lompat antrean.

Dari sisi teknis, perekaman data berlangsung cepat karena peralatan yang dibawa petugas udah mendukung proses digital penuh. Semua data langsung masuk ke sistem Dukcapil pusat lewat koneksi internet yang disiapin khusus. Jadi, nggak perlu ada proses input ulang di kantor, yang biasanya bisa bikin proses jadi lama.

Yang menarik, beberapa siswa mengaku awalnya nggak nyangka kalau prosesnya bakal secepat itu. Mereka pikir harus duduk lama kayak di film-film yang ngurus paspor. Ternyata, kalau semua dokumen udah siap, perekaman cuma butuh waktu sekitar 3-5 menit per orang.

Program jemput bola ini bukan cuma efisien, tapi juga hemat tenaga. Pelajar nggak perlu keluar ongkos buat transportasi, dan sekolah nggak kehilangan waktu belajar terlalu banyak. Buat orang tua, ini juga mengurangi kekhawatiran soal anaknya harus bolos atau keluyuran ke kantor pemerintahan.

Beberapa kepala sekolah yang terlibat dalam program ini menyambut positif. Mereka berharap kegiatan seperti ini bisa rutin diadakan, nggak cuma pas momen besar kayak HUT RI. Apalagi, masih banyak pelajar di Jakarta Selatan yang belum sempat bikin KTP walaupun udah cukup umur. Faktor kesibukan, jarak ke kantor Dukcapil, dan jam kerja yang bentrok sama jadwal sekolah sering jadi kendala.

Selain perekaman KTP elektronik, ada juga layanan update data bagi pelajar yang datanya belum lengkap di sistem kependudukan. Misalnya, koreksi nama, alamat, atau status kewarganegaraan. Semua dilakukan di tempat tanpa biaya. Pelajar tinggal bawa dokumen pendukung kayak akta kelahiran atau kartu keluarga.

Kalau dilihat dari kacamata anak kos atau pelajar rantau di Jaksel, program kayak gini bisa banget jadi solusi praktis. Banyak anak kos yang ngejar sekolah atau kuliah di sini nggak sempat ngurus dokumen di daerah asalnya. Dengan adanya jemput bola di sekolah atau kampus, prosesnya jadi lebih gampang dan cepat.

Dari obrolan sama beberapa siswa, kebanyakan bilang mereka senang karena nggak harus keluar sekolah. Ada juga yang bilang baru tau kalau KTP itu bisa langsung jadi kalau datanya lengkap dan sistemnya lancar. Walaupun untuk pencetakan fisiknya tetap butuh waktu beberapa hari, paling nggak mereka udah punya tanda bukti perekaman.

Secara keseluruhan, kegiatan jemput bola administrasi kependudukan di sekolah-sekolah Jaksel ini nunjukin kalau pelayanan publik bisa dibuat lebih dekat dan ramah sama warga muda. Tinggal gimana ke depannya program ini bisa konsisten dijalankan, biar semua pelajar punya akses yang sama ke layanan dasar negara.

Sumber: ANTARA News – HUT RI, Dukcapil Jaksel jemput bola layanan adminduk di 13 sekolah (https://www.antaranews.com/berita/5041361/hut-ri-dukcapil-jaksel-jemput-bola-layanan-adminduk-di-13-sekolah) – 15 Agustus 2025

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *