Tanggal 31 Agustus 2025 jadi babak baru dalam gelombang demonstrasi besar-besaran yang mengguncang Jakarta Selatan. Di tengah suhu politik yang makin panas, rusuh demo kembali pecah di kawasan sekitar Mako Brimob Kwitang. Aksi yang awalnya berlangsung damai mendadak berubah jadi kekacauan total. Massa turun ke jalan, kendaraan terbakar, halte Transjakarta dirusak, dan aparat kepolisian dikerahkan dalam jumlah besar.
Semua ini berawal dari tragedi yang bikin hati banyak orang remuk: Affan Kurniawan, seorang driver ojek online yang tertabrak mobil taktis milik Brimob saat sedang melintas. Kejadian itu bukan cuma bikin warga geram, tapi langsung menyulut api kemarahan publik, terutama para ojol dan komunitas pekerja informal. Buat mereka, Affan bukan sekadar korban. Dia simbol dari ketidakadilan yang selama ini ditelan diam-diam.
Kematian Driver Ojol yang Picu Amarah Publik
Kecelakaan yang menewaskan Affan terjadi pada 28 Agustus 2025. Mobil taktis Brimob yang sedang mengawal iring-iringan keamanan melaju kencang di jalan sempit, dan menghantam Affan yang sedang berhenti di pinggir jalan menunggu order. Saksi mata menyebut kendaraan itu tidak memperlambat laju meski jalanan padat.
Meninggalnya Affan menjadi pemicu utama protes besar yang mulai menyebar di berbagai titik ibu kota. Poster bertuliskan #PolisiPembunuhRakyat dan #KeadilanUntukAffan bermunculan di media sosial. Bahkan, aksi turun ke jalan melibatkan ratusan driver ojol, mahasiswa, dan kelompok sipil lain yang selama ini merasa terpinggirkan.
Mereka menuntut pengusutan tuntas kasus kematian Affan dan mendesak Presiden serta Kapolri mundur dari jabatannya. Tuntutan lainnya termasuk pembubaran DPR dan pembatalan kenaikan tunjangan pejabat negara yang dianggap nggak sensitif sama realitas ekonomi rakyat.
Demonstrasi Jakarta Selatan Berujung Kerusuhan
Aksi yang terjadi hari ini dimulai dari titik kumpul di sekitar Salemba dan Kwitang. Ratusan orang berkumpul membawa poster, pengeras suara, dan atribut berwarna hitam. Awalnya semua berlangsung tertib. Namun saat massa mendekat ke arah Mako Brimob, pagar barikade didobrak. Kericuhan pun pecah.
Bentrok nggak terhindarkan. Polisi menembakkan gas air mata, sementara demonstran melempar batu dan botol ke arah aparat. Mobil polisi dibakar di depan gerbang, dan beberapa sepeda motor tergeletak dalam keadaan hangus. Di sisi lain, warga sekitar panik. Beberapa toko dan warung cepat-cepat tutup demi menghindari kerusakan.
Menjelang malam, situasi makin panas. TNI ikut turun ke jalan untuk membantu pengamanan. Unit marinir dan pasukan cadangan terlihat di sekitar flyover Salemba. Jalanan sekitar ditutup total. Ambulans bolak-balik mengangkut korban luka dari kedua pihak.
Efek Domino: Transportasi Publik Lumpuh Total
Salah satu imbas terbesar dari rusuh demo ini adalah lumpuhnya transportasi publik di Jakarta Selatan. Transjakarta mengumumkan penghentian layanan sementara setelah beberapa halte rusak berat, bahkan ada yang dibakar. Trayek yang melewati Kwitang, Cikini, dan sekitarnya dialihkan.
MRT Jakarta juga nggak lepas dari dampak. Mulai hari ini, MRT hanya melayani rute terbatas dari Lebak Bulus sampai Blok M. Stasiun-stasiun seperti Dukuh Atas dan Bundaran HI ditutup untuk mencegah risiko tambahan.
Pemerintah daerah akhirnya merespons dengan menggratiskan layanan Transjakarta dan MRT selama satu minggu mulai tanggal 30 Agustus. Langkah ini diambil buat bantu mobilitas warga yang kesulitan transportasi akibat rusuh.
600 Orang Ditangkap, 4 Tewas, Ratusan Luka
Data terbaru menunjukkan lebih dari 600 orang telah diamankan aparat. Beberapa di antaranya dituduh melakukan tindakan anarkis, seperti pembakaran fasilitas umum dan penyerangan terhadap petugas. Sementara itu, jumlah korban luka tercatat mencapai ratusan, termasuk dari pihak aparat.
Yang lebih bikin miris, laporan terakhir menyebutkan sudah ada 4 korban jiwa. Identitas mereka belum semuanya dipublikasikan, tapi kabar ini udah cukup bikin media sosial dibanjiri tagar kemarahan baru. Warganet ramai-ramai menyerukan agar semua korban mendapat keadilan.
“Kami hanya ingin suara kami didengar. Tapi yang kami dapat malah gas air mata dan peluru karet,” ujar Roni, mahasiswa salah satu kampus swasta di Salemba yang ikut aksi.
Dampak Emosional dan Tekanan Sosial
Rusuh demo hari ini nggak cuma berdampak pada fisik kota. Mental warga juga ikutan terguncang. Banyak penghuni kos di kawasan Rawa Barat, Salemba, dan Cikini merasa trauma karena suara ledakan gas air mata yang terus terdengar semalaman. Di Twitter, thread cerita dari anak kos yang harus tiarap di balik kasur karena takut peluru nyasar jadi viral.
Di sisi lain, makin banyak orang tua dari luar kota yang panik karena nggak bisa menghubungi anak-anak mereka di Jakarta. Koneksi internet dan sinyal di beberapa titik sempat down, bikin kepanikan makin besar.
Apakah Ini Akan Terus Berlanjut?
Pertanyaannya sekarang: apakah semua ini bakal berhenti di sini? Belum ada tanda-tanda protes akan mereda. Beberapa aliansi sipil justru mengumumkan akan menggelar aksi lanjutan dalam dua hari ke depan. Mereka menyerukan pemogokan massal sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai makin jauh dari rakyat.
Presiden sendiri belum memberikan pernyataan resmi soal rusuh demo hari ini. Kapolri hanya menyampaikan bahwa “situasi masih dalam kendali” dan penyelidikan atas kematian Affan akan dibuka.
“Kami tidak akan tinggal diam. Ini tentang harga diri rakyat. Affan bisa jadi siapa pun dari kami,” kata Reza, koordinator lapangan dari kelompok ojol yang turut berdemonstrasi.
Kerusuhan yang terjadi di Jakarta Selatan bukan cuma soal bentrok. Ini cermin dari tekanan sosial yang udah numpuk terlalu lama. Entah siapa yang akan mendengar, tapi jelas ribuan warga Jakarta hari ini nggak cuma turun ke jalan karena marah, tapi juga karena mereka sudah terlalu lelah.
Sumber: Wikipedia – August 2025 Indonesian protests – 31 Agustus 2025



