Suasana relokasi pedagang kaki lima Barito ke Pasar Lenteng Agung Jakarta Selatan dengan aktivitas warga yang mulai ramai

95 Pedagang Barito Setuju Direlokasi ke Lenteng Agung, Begini Respons Warga Jaksel

Kalau lo sempet main ke sekitar Taman Ayodya di daerah Barito, Kebayoran Baru, lo pasti familiar sama deretan pedagang kaki lima yang dulu biasa mangkal di sana. Dari yang jual makanan ringan, kopi sachet, sampe camilan-camilan pinggir jalan yang selalu rame pembeli. Tapi belakangan, suasana itu mulai berubah. Loksem (Lokasi Sementara) Barito yang sempet jadi titik kumpul para pedagang itu udah kosong. Dan ternyata, ini bukan sekadar kosong biasa. Ada cerita relokasi yang lagi berjalan, dan diam-diam udah banyak yang setuju pindah ke tempat baru.

Hari ini, Selasa, PPKUKM Jakarta Selatan ngumumin kalau 95 pedagang eks Loksem Barito udah setuju buat pindah ke Pasar Lenteng Agung. Iya, bener, Lenteng Agung yang lumayan jauh dari spot awal mereka di Jaksel bagian selatan. Info ini langsung disampein sama Kepala Suku Dinas PPKUKM Jaksel, Parulian Tampubolon. Meskipun detail lengkapnya belum dibongkar semua, tapi ini jadi langkah signifikan dari wacana relokasi yang udah lama terdengar di kalangan warga dan pedagang sekitar.

Proses relokasi pedagang kaki lima Barito ke Lenteng Agung

Yang menarik, menurut penuturan pihak Sudin, proses ini sebenarnya udah cukup lama dimulai. Cuma memang nggak heboh, karena dilakukan secara bertahap dan sambil terus komunikasi sama para pedagang. Nggak gampang memang, apalagi banyak dari mereka yang udah berjualan di kawasan Barito sejak bertahun-tahun. Jadi ketika wacana relokasi muncul, reaksi awalnya sempet beragam. Ada yang langsung bilang oke, tapi banyak juga yang ragu. Alasan utamanya tentu soal jarak dan potensi kehilangan pelanggan setia.

Tapi perlahan, pendekatan personal dari pihak kelurahan dan Sudin ngebantu banget. Pedagang dikasih info soal fasilitas di Pasar Lenteng Agung, termasuk kondisi lapak yang lebih tertata dan legalitas yang lebih kuat. Bukan cuma sekadar dipindahin, tapi juga disiapin buat usaha yang lebih sustain ke depan. Nah, pendekatan kayak gini yang akhirnya bikin mayoritas dari mereka luluh dan bersedia geser ke lokasi baru itu.

Buat warga Jaksel, khususnya yang sering lewat daerah Barito, perubahan ini mungkin mulai terasa. Jalanan yang tadinya penuh sama gerobak jualan sekarang lebih lengang. Di satu sisi, kelihatan lebih tertib. Tapi di sisi lain, juga bikin suasana khas Barito agak kehilangan “napas” lokalnya. Lo ngerti kan, vibe sore-sore beli cilok sambil nunggu temen nongkrong di Ayodya, sekarang udah nggak sehidup dulu.

Fasilitas pasar baru dan respons dari warga sekitar

Pasar Lenteng Agung sendiri bukan pasar baru. Tapi, kawasan itu emang punya ruang untuk pedagang binaan, termasuk mereka yang sebelumnya nggak punya tempat jualan tetap. Di sana, pedagang bisa dapet tempat yang lebih rapi, nggak kena gusur tiba-tiba, dan punya akses ke fasilitas yang mendukung kayak listrik dan sanitasi.

Warga sekitar Lenteng Agung ngasih respons yang cukup positif. Meskipun belum semua pedagang eks-Barito dateng, tapi yang udah buka lapak di sana mulai dapet pelanggan baru juga. Apalagi mereka bawa jajanan khas yang beda dari yang biasa dijual di sana. Jadi ada semacam pertukaran budaya kecil-kecilan gitu. Orang Lenteng bisa nyobain rasa camilan khas Barito, dan pedagang bisa kenal pasar baru yang belum tentu lebih sepi dari tempat lama mereka.

Di sisi lain, beberapa warga Jaksel yang sering ke Barito juga mulai ngerasa kehilangan. Nggak sedikit yang bilang kalau mereka rela ke Lenteng Agung cuma buat beli makanan favorit yang udah langganan bertahun-tahun. Jadi relokasinya ini nggak cuma geser titik jualan, tapi juga ngegeser rute kenangan banyak orang.

Transisi pedagang binaan dan legalitas usaha mikro di Jaksel

Langkah ini jadi bagian dari kebijakan Pemprov buat memperkuat legalitas dan pengelolaan pedagang mikro di Jakarta. Nggak bisa dipungkiri, keberadaan PKL kadang dianggap “ganggu ketertiban”, apalagi kalau berjualan di trotoar atau badan jalan. Tapi di saat yang sama, mereka juga bagian dari denyut ekonomi lokal yang real. Nggak semua orang bisa beli kopi mahal di kafe, kan? Kadang kopi hitam plastik seharga Rp5.000 itu justru yang nyelametin pagi lo sebelum kerja.

Jadi wacana relokasi ini memang jadi dilema. Tapi dengan pendekatan yang cukup soft dan kompromi dua arah, kayaknya Pemkot Jaksel lumayan berhasil buat bikin proses ini nggak meledak kayak kasus-kasus penggusuran sebelumnya. Dan relokasi ke Lenteng Agung ini jadi salah satu contoh bahwa proses transisi bisa dijalanin tanpa harus keras-kerasan.

Dari 95 pedagang yang udah sepakat, belum semuanya pindah fisik. Tapi rencana penataan udah jalan, dan seiring waktu diharapkan bisa narik lebih banyak pedagang buat ikut pindah juga. Pemerintah juga ngejanjiin bakal terus ngawasin proses ini, termasuk dengerin keluhan dan kebutuhan mereka yang udah pindah.

Sampai artikel ini ditulis, belum ada update soal apakah relokasi ini bakal diikuti sama bantuan modal, pelatihan, atau program pendampingan lainnya. Tapi minimal, langkah awal udah kelihatan lebih manusiawi dan berorientasi jangka panjang. Semoga aja ini jadi standar baru penanganan PKL di kota-kota besar, bukan cuma soal bersih-bersih trotoar, tapi juga soal nyiapin tempat baru yang beneran hidup.

“Kami mencatat, sebanyak 95 pedagang sudah menyatakan kesediaannya untuk relokasi ke Pasar Lenteng Agung,” kata Parulian Tampubolon, Kepala Suku Dinas PPKUKM Jakarta Selatan.

Dan buat lo yang udah kangen jajanan khas Barito, coba deh mampir ke Lenteng Agung weekend ini. Siapa tau lo ketemu lagi sama abang bakwan goreng favorit lo, yang masih inget pesanan lo kayak dulu: nggak pakai pedes, tapi kerupuknya dua.

Sumber: ANTARA News – PPKUKM Jaksel catat 95 pedagang Barito setuju pindah ke Lenteng Agung – 19 Agustus 2025

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *